Sebelum Berangkat

Sudah hampir satu tahun dia menghabiskan waktunya mempersiapkan perjalanan ini. Sebetulnya hanya perjalanan pendek, sepuluh hari, mengelilingi beberapa negara Asia.  Ia memandangi layar komputernya, membuka halaman untuk melakukan check-in on-line. Ada dua nama tertera di halaman itu. Harusnya ini perjalanan untuk dua orang. Ia menarik nafas, melihat sudut kanan bawah layar. Dua tahun lalu, di bulan-bulan ini rencana perjalanan itu tercetus.

***
“Sekali-kali kita harus coba yang lebih menantang, jalan-jalan keliling Asia sebulan gitu. Yang deket-deket aja. Vietnam Laos Kamboja aja kita belum pernah ke sana.”

“Boleh. Pesen tiket dan sebagai-bagainya lo yang urus yah, gw seperti biasa bawa badan dan kamera hahaha.”

“Eh, kita bisa bikin semacam foto tema gitu di tiap tempat, terus ada ceritanya gitu.”

“Terus dibikin buku gitu?”

“Iya! Kayak semacam buku traveling tapi cerita soal tempat-tempat wisatanya dibalut dalam sastra pendek gitu. Puisi atau cerpen.”

“Kok lo kadang oon kadang pinter sih?”

“Sialan! Daripada elo, oon terus ga pernah pinter.”

***

Dan satu per satu rencana  dilakukan. Mereka memesan tiket beberapa bulan kemudian, diskusi tentang tema, tentang ide-ide, tentang lokasi yang harus disinggahi, tentang pundi-pundi rupiah yang harus dikumpulkan. Semua terasa begitu menyenangkan sampai kemudian seorang laki-laki datang. Entah dari mana, datang begitu saja.

Kadang-kadang hidup bisa berubah begitu cepat. Dan perubahan seperti dua sisi mata uang, membawa kebahagian sekaligus gangguan pada hal-hal yang sudah direncanakan. Menjadi semacam kekecewaan yang harus disembunyikan karena adalah keriaan bila dilihat dari sisi yang lain.

***

“Gw dilamar!”

“Serius?”

“Dia ngajak gw nikah tiga bulan dari sekarang!”

“Serius?”

“Gw seneng banget. Gw langsung bilang iya”

“Lo yakin?”

“Yakin 150%”

“Rencana keliling Asia?”

“Ya masih lah, kan masih tahun depan.”

“LO YAKIN?”

“GW YAKIN! Hahahaha”

***

Manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Tepat 7 bulan sebelum rencana keberangkatan, kabar yang paling ditakutkan datang.

“Sebentar lagi lo punya ponakan lo!”

“He… Lo hamil?”

“7 minggu!”

“Ya ampun..”

Hening cukup lama.

“Gw sampe berkaca-kaca gini dengernya..”

“Hahahaha”

Karena selain kesedihan, airmata itu adalah perwakilan dari kebahagiaan, kekecewaan dan kemarahan. Kita tidak pernah benar-benar pasti mengerti sampai kita jujur pada diri kita sendiri kan?

***

Pikirannya kembali ke layar komputernya. Ia merasakan ada genangan air tipis di bola matanya. Rencana perjalanan itu akhirnya menjadi rencana perjalanan solo. Entah siapa yang sebenarnya tertinggal dan meninggalkan. Dirinya yang masih sendiri-sendiri saja di usia kepala tiga dengan berbagai macam pengalaman, artikel perjalanan dan foto-foto di majalah vakansi atas namanya. Atau bekas teman seperjalanannya yang sekarang sedang menantikan momen menjadi ibu dengan suami dan sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta. Ia memutuskan untuk mengambil telfon genggamnya.

“Gw berangkat ntar malem.”

“Aduh gw iri banget. Banget! Ini gw udah status siaga nih, kapan pun uda harus siap kalo tiba-tiba air ketuban pecah.”

“Hahaha. Gila ya, ga kebayang bisa jadi begini rencananya.”

“Hahaha iya, gw juga ga paham kenapa jadi begini. Ini gw lagi nahan nangis nih sekarang.”

“Hahaha.”

Ia juga menahan air mata tanpa ia tahu mengapa. Ia marah, kesal, tapi juga percaya, perjalanan ini pasti akan lebih menarik bila menjadi perjalanan solo. Tidak harus memikirkan makan apa yang sesuai untuk mereka berdua, atau memusingkan bila terpencar saat berbelanja, atau harus mencari kamar mandi bila salah satu tiba-tiba ingin buang air ketika yang lain asik melihat-lihat barang di pasar tradisional. Jadi harus sedih atau senang,  dia tidak tahun. Lagi pula apa yang dia tahu?

Ia menyeka air matanya, menekan tombol konfirmasi terakhir, menutup laptopnya dan menghabiskan kopinya. Sayup lagu familiar mengalun pelan di kafe itu.

And up we’ll go
In white light
I don’t think so
But what do I know?
What do I know?
I know!

 

[ ]

*Terinspiras dari lagu “Bedshaped” yang dinyanyikan oleh band favorit saya “Keane”

 

Advertisements

Sebelum Gelap, Suatu Hari Di Kota Bangkok

gits

“Sudah lebih dari beberapa bulan kamu tidak pernah menulis lagi. Ada apa?”

“Ga apa-apa. Lagi ga ada ide aja.”

“Idemu itu kayaknya cuma mengalir kalau kamu sedang galau ya?”

“Hahaha, iya. Dan bukannya bagus ya, artinya kan sekarang sudah ga galau lagi.”

“Yakin ga galau?”

“Ga percayaan amat sih?”

“Ya kan habis gimana.”

“Gimana apa?”

“Hahaha, ga apa-apa”

Lalu sebuah memori tiba-tiba muncul begitu saja. Satu tahun yang lalu. Sebuah senja, sebelum gelap, suatu hari di Kota Bangkok. Tentang percakapan tidak biasa antara keduanya yang baru saja berkenalan beberapa jam saja. Yang satu sedang patah hati karena baru tahu kalau dirinya dijadikan orang kedua. Yang satu sedang menegarkan diri, baru putus hubungan dengan kekasihnya. Ada percakapan yang terus mengalir dengan canggung. Canggung tapi tidak ingin berhenti. Saling tertarik tapi sama-sama menahan diri.

Lalu masing-masing melanjutkan kehidupannya, berjalan pelan menuju titik tujuan masing-masing.

Dan kini mereka bertemu lagi di suatu acara tidak terduga. Di tempat yang sama, jam yang sama. Sesaat sebelum gelap, suatu hari di Kota Bangkok.

“Jadi kamu sudah tunangan?”

“Hehe sudah.”

“Baguslah.”

“Kamu sendiri gimana?”

“Ya masih gini-gini aja. Masih sama pacarku itu.”

“Iya, aku sering liat foto kalian berdua di facebook kok.”

“Kalo gitu ngapin nanya-nanya?”

“Basa basi sopan aja sih.”

“Hahahaha.”

Ternyata masing-masing masih saling memantau satu sama lain. Dari jauh. Lewat tulisan-tulisan digital dunia maya.

“Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa berdoa.”

“Iya. Kamu lebih bawel dari ibuku.”

“Hahaha. Ya pokoknya kamu jaga diri baik-baik ya.”

“Iya iya iya.”

Sebuah tepukan di bahu. Bukan tepukan, lebih tepatnya rangkulan.

“Kamu tahu cerita Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh di bukunya Dee ga?”

“Iya tahu.”

“Kadang-kadang, sesekali dalam hidup, kita itu adalah bintang jatuhnya tapi juga sekaligus bisa jadi Putri atau Ksatrianya”

“Hmmm.”

“Mungkin kalau aku ga ketemu kamu, sekarang aku ga tunangan.”

“Ya kadang kupikir kalau aku a ketemu kamu aku jua ga pacaran.”

Lalu hening lama sekali.  Sampai salah satu memtuskan untuk kembali terlebih dahulu. Sedangkan yang satu sibuk memandangi senja yang semakin gelap. Sebuah penutup untuk percakapan canggung yang kurang ideal namun diperlukan. Tiba-tiba ia merindukan tunangannya dan segera menghubungi selulernya. Dengan mata sedikit basah ia berkata pelan.

“Sayang, senja di Bangkok hari ini indah sekali.”

[ ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Jendela dan Hujan

Menunggu entah apa sambil melihat ke luar jendela. Ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan di antara jarak  yang diam dan muram.

Jendela dengan titik-titik air sehabis hujan dan bias lampu sepanjang jalan. Membuat banyak hal menjadi kabur dan berbayang. Membuat kita menebak-nebak apa  yang ada di luar sana. Mungkin begini, atau mungkin begitu. Atau mungkin apalah. Menebak masa depan sama susahnya dengan menebak masa lalu.

Kita merindukan hujan, tapi lalu semuanya tiba-tiba menjadi buram. Maksudku, kita tidak bisa melihat jernih di dalam hujan. Air mata sama beningnya dengan air hujan. Keringat sama beningnya dengan air hujan. Kita tidak tau siapa yang sedang kelelahan atau siapa yang memendam kesedihan.  Tapi permasalahannya kita jatuh cinta di tengah-tengah hujan. Jadi kita menikmati hujan dan menyimpan saja ambigu dan ironi di balik jendela.

Lalu? Ya lalu ya seperti itu. Karena nanti segala sesuatunya pasti akan baik-baik saja. Seperti yang sudah-sudah.

Dan kita hanya akan saling berpandangan menunggu dan saling bercerita.

Tentang jendela dan hujan sepanjang hari. Dan tentang syair-syair kecil yang tidak bisa tertulis di antara jarak yang diam dan muram.

[ ]

Percakapan Dengan Segelas Wine

Kesendirian biasanya membawa kebijaksanaan. Dan kesabaran.
Itu kata segelas wine.

image

Malam ini tidak banyak yang bisa dilakukan. Udara tiga puluh derajat celcius dan angin sepoi sepoi di antara himpitan rumah susun jalan Sukhumvit 16. Soi sip ha. Atau soi sip wa ya? Lupa. Padahal tadi sudah diberitahu cara mengucapkan alamat oleh rekan sejawat menggunakan bahasa Thai.

Jadi bagaimana rasanya kesendirian? Ternyata tidak terlalu enak juga. Rasa pahit manis ini harusnya menjelma menjadi cerita atau keluh kesah basa basi. Atau mungkin ciuman. Mungkin.

Harga wine di sini cukup murah. Mungkin perlu untuk membeli satu botol penuh untuk persediaan di kamar. Mungkin.

Gelas yang akhirnya kosong. Selamat malam, kata si wine dari balik kerongkongan.

[ ]

Bunga Bunga Kecil

image

Adalah hal hal kecil di antara kita berdua yang kerap kita rindukan di saat saat rentangan kilometer terbentang begitu saja di antara kita. Jauh. Hal hal kecil semacam bunga bunga kecil di antara semak belukar gunung Gede. Banyak dan sedikit berantakan. Tapi entah mengapa indah.

Aku melihat bunga bunga keci sore ini di taman Benchakiti. Dan lalu aku ingat hal hal kecil lainnya. Bau bajumu, tangan besar, celana skinny dan rambut keriting. Dan lalu sudah tersenyum saja. Tiga ratusan hari lagi dan kita pasti akan sampai ke situ. Pasti.

[ ]

Dia Cuma Ingin Menangis

Di antara bantal guling selimut
Yang terkena terpaan sinar matahari
Dan mandi pagi dengan air dingin
Karena pemanasnya rusak
Dan deru pengering rambut
Dan sisir gelung
Dan sepatu
Dan tas
Dan jam tangan baru yang dicicil selama enam bulan
Dan setiap hal kecil di hari itu

Dia cuma ingin menangis di dalamnya

[ ]

Kembali

image

Semacam perasaan ingin pulang. Pada suatu pagi berkabut, gunung Salak.

Tempat mencari kadang adalah sunyi. Sunyi yang paling sepi untuk akhirnya kembali.

Kapan terakhir kamu kembali?

[ ]